
TangSel, Jum'at 17 Februari 2023/26 Rajab 1444H,19.00 WIB. Bismillah....semoga pertemuan ke 18 malam ini penulis bisa mengikuti hingga akhir dan mampu menyerap ilmu yang akan ditebarkan oleh narasumber gapah, cantik jelita Ibu Maesaroh, M. Pd. akrab disapa Maydearly dan didampingi moderator cantik dan kenes Ibu Widya Setianingsih, S. Ag. akrab dipanggil Widya Arema.
Materi malam ini tentang DIKSI dan SENI BAHASA.
Narasumber adalah seorang guru di SMPN 1 Lebakgendong, Kabupaten Lebak, Banten. Pendidikan S1 di STKIP Setiabudhi Rangkasbitung. Diatara karyanya adalah 10 buku antologi, 2 buku kurator Jejak Pena Pengembara Aksara, dan Kisah Para Pendaki Mimpi. Buku Duo Literasi Digital untuk Abad 21 bersama Prof Indrajit. Tiga buku solo Trik Jitu menjadi Penulis Milenial, Episode 1 Januari 2020 Dalam Kenangan, dan Catatan Inspiratif.
"Sahabat adalah kata sederhana yang acap kali merapal makna dalam jiwa. Pada sahabat kerap kita terbangkan kepingan kisah yang tersusun rapi. Sahabat adalah ia yang paling mengerti hati kita dalam lara nan pekat, meski kerap kita tancapkan luka, sang sahabat akan membalas dengan seribu pelukan".
"Terkadang dalam hidup ada robekan paling tidak sopan yang menenggelamkan kita dalam tangisan, namun seorang sahabat membawa kita tertatih berjalan dan mengambil sisa tawa untuk masa depan. Menguatkan lewat doa dan menggenggam dengan Bismillah". (Maydearly)
Pengertian Diksi
Menurut Wikipedia, Diksi adalah pilihan kata di dalam tulisan yang digunakan untuk memberi makna sesuai keinginan penulis.
Diksi – akar katanya dari bahasa Latin: dictionem. Kemudian diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi diction artinya pilihan kata.
Diksi adalah pilihan kata untuk menuliskan sesuatu secara ekspresif, sehingga tulisan tersebut memiliki ruh dan karakter kuat, mampu menggetarkan atau mempermainkan pembacanya.
Dalam sejarah bahasa, Aristoteles – filsuf dan ilmuwan Yunani inilah yang memperkenalkan diksi sebagai sarana menulis indah dan berbobot. Gagasannya itu ia sebut diksi puitis yang ia tulis dalam Poetics– salah satu karyanya. Seseorang akan mampu menulis indah, khususnya puisi, harus memiliki kekayaan yang melimpah: diksi puitis. Gagasan Aristoteles dikembangkan fungsinya, bahwa diksi tidak hanya diperlukan bagi penyair menulis puisi, tapi juga bagi para sastrawan yang menulis prosa dengan berbagai genre-nya.
William Shakespeare dikenal sebagai sastrawan yang sangat piawai dalam menyajikan diksi melalui naskah drama. Ia menjadi mahaguru bagi siapa saja yang berminat menuliskan romantisme dipadu tragedi. Diksi Shakespeare relevan untuk menulis karya yang bersifat realita maupun metafora. Gaya penyajiannya sangat komunikatif, tak lekang digilas zaman.
Mengapa Diksi begitu penting?
Diksi begitu penting dalam kajian sebuah bahasa, sebab banyak keindahan atas sebuah kata yang tak tereja oleh bibir. Diksi bak pijar bintang di angkasa yang menunjukan dirinya dengan kilauan, mempesona dan tak membosankan.
Lantas, apakah begitu sulit kita dalam berdiksi? Terkadang banyak penulis yang merasa takut dalam memulai sebuah tulisan, terkadang lidah kita merasa kelu untuk menulis sesuatu yang menakjubkan. Ada keraguan yang dibungkam sebelum diterjemahkan dalam bahasa. Apakah mungkin saya bisa menulis sebuah bahasa yang indah? Saya merasa takut tulisan saya terdengar garing ketika dibaca. Menulis itu sederhana. Se sederhana mengadukan gula dalam gelas kopi. Caranya, menulis dari apa yang kita lihat, apa yang kita rasakan dan apa yang kita dengarkan. Lantas jurus apa yang harus kita pakai agar kita mampu menulis dengan segala keindahan?Libatkan 5 macam panca indera kita.
Lima Macam Panca Indera kita adalah :1. Sense of Touch adalah menulis dengan melibatkan indera peraba. indra peraba dapat digunakan untuk memperinci dengan apik tekstur permukaan benda, atau apapun. Penggunaan indra peraba ini sangat cocok untuk menggambarkan detail suatu permukaan, gesekan, tentang apa yg kita rasakan pada kulit. Aplikasi indra peraba ini juga sangat tepat digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang tidak terlihat, seperti angin misalnya. Atau, cocok juga diterapkan untuk sesuatu yang kita rasakan dengan menyentuhnya, atau tidak dengan menyentuhnya.
Contoh:
Pada pori-pori angin yang dingin, aku pernah mengeja rindu yang datang tanpa permisi
2. Sense of Smell adalah menulis dengan melibatkan indra penciuman hal ini akan membuat tulisan kita lebih beraroma. Tehnik ini akan lebih dahsyat jika dipadukan dengan indra penglihatan.
Contoh:
Di kepalaku wajahmu masih menjadi prasasti, dan aroma badanmu selalu ku gantungkan dilangit harapan
3. Sense of Taste adalah menulis dengan melibatkan indra perasa. Merasakan setiap energi yang ada di sekitar kita. Penggunaan indra perasa sangat ampuh untuk menggambarkan rasa suatu makanan, atau sesuatu yg tercecap di lidah.
Contoh:
Ku kecup rasa pekat secangkir kopi di tangan kananku, sembari ku genggam Hp tangan kiriku. Telah terkubur dengan bijaksana, dirimu beserta centang biru, diriku bersama centang satu.
4. Sense of Sight adalah menulis dengan melibatkan indra penglihatan memiliki Prinsip “show, don’t tell". Selalu ingat, dalam menulis, cobalah menunjukkan kepada pembaca (dan tidak sekadar menceritakan semata). Buatlah pembaca seolah-olah bisa “melihat” apa yang tengah kita ceritakan. Buat mereka seolah bisa menonton dan membayangkannya. Prinsip utama dan manjur dalam hal ini adalah DETAIL. Tulislah apa warnanya, bagaimana bentuknya, ukurannya, umurnya, kondisinya.
Contoh
Derit daun pintu mencekik udara ditengah keheningan, membuatku tersadar jika kamu hanya sebagai lamunan
5. Sense of hearing adalah menulis dengan melibatkan energi yang kita dengar. Begitu banyak suara di sekitar kita. Belajarlah untuk menangkapnya. Bagaimana? Dengarlah, lalu tuliskan. Mungkin, inilah sebab mengapa banyak penulis sukses yang kadang menanti hening untuk menulis. Bisa jadi mereka ingin menyimak suara-suara. Sebuah tulisan yang ditulis dengan indra pendengaran akan terasa lebih berbunyi, lebih bersuara. Selain itu, penulis juga bisa berkreasi dengan membuat hal-hal yang biasanya tak terdengar menjadi terdengar.
Contoh
Derum kejahatan yang mendekat terasa begitu kencang. Udara hening, tetapi terasa berat oleh jerit keputusasaan yang dikumandangkan bebatuan, sebuah keputusan yang menghakimiku untuk tak lagi merinduimu.
Acap kali dalam menulis kita hanya melibatkan otak kita sebagai muara untuk berpikir tanpa kita dengar, tanpa kita rasa, tanpa kita raba, jika terkadang sesuatu di pelupuk mata bisa menjadi rongga untuk mencumbu tulisan kita. Mengapa kita selalu melihat kursi yang kita duduki dengan pandangan yang begitu sederhana? Sesekali buatlah ia mempesona dan anggun. Di atas kursi ini, aku pernah memeluk ratapan bagaimana menungguimu dengan sebuah doa takdim.
Setiap apapun yang kita lihat, sesekali kita rasakan, kita raba, bahkan kita ampu kan sebagai sebuah senyawa yang mampu bersuara. Yakin, masih terasa sulit menulis diksi? Yaa...Menulis itu tidak sulit, yang sulit karena belum mencoba.
Narasumber mengajak peserta Kelas BM28 untuk mencoba mencoba menulis diksi, menulis sesuatu yang terlihat di hadapan dengan melibatkan kelima panca indera.
Contoh sebuah buku Autobiograpi yang kaya Diksi.
Tuhan membawa pesona Sang Astuti lewat celah barisan kehidupan. Astuti mengembara lewat kata, tawa, dan dilatasi warna.
Diiringi bunyi menukik yang mencumbui keheningan, ia menjejakkan kaki dalam prosa bertajuk pelangi.
Astuti, di aroma tanpa irama kisahnya menggantung di langit mengepung jutaan bintang, liar dan berbinar menelusup otak dan jemari.
Astuti mengendap lepas dari jenuh eligi kehidupan, tentangmu patut direguk tanya.
Dengan bismillah, kutatap laptopku, kusimak setiap untaian kata penuh makna dari sang pemateri Maydearly, yang menjadi magnet diriku menimba ilmu. Kutarikan jemariku di atas layar kaca untuk memulai merangkai Diksi dan Seni Bahasa sambil sesekali menyeruput kopi radixku agar semangat tetap menggelora di jiwaku menunggu titisan ilmu bersama para pejuang ilmu melalui pertemuan virtual dalam Kelas BM28 untuk meraih mimpi menjadi penulis sejati. (Toyibah Sobari)
Ternyata setelah mencoba, kita akan yakin, setelah yakin Pasti Bisa.
"Menulis itu tidak sulit, karena yang sulit adalah tidak ingin memulai".
"Tahukah kamu? Seorang penulis sejati adalah seseorang yang tidak pernah merasa sedih, tidak pernah menyerah, tidak pernah putus asa, selalu berusaha mencoba dan terus mencoba. Susah payah dia menata perasaannya, dia yang selalu menumbuhkan ide-ide baru".
Semoga pertemuan ini adalah awal tegukan yang manis, mengawali cerita di layar kaca, menyusun kepingan kata, dan diseduh dengan rasa bahagia untuk terus belajar berprosa. Karena bahasa adalah jembatan antara hujan dan kemarau yang ketika dibubuhi embun ia menjadi pelangi, indah nan elegan.
"Menulislah seperti embun yang ketika jatuh ke bumi membawa pengetahuan, dan ketika melangit ke Arsy menjadi keabadian" (Maydearly)
Demikian resume materi Diksi dan Seni Bahasa yang dapat penulis buat, semoga dapat menjadi jembatan meraih mimpi sebagai penulis sejati penuh diksi sehingga melekat di hati para pegiat literasi.
mantap... semakin oke mbak
BalasHapusTerima kasih say.... Moga bisa niru suhunya hehehe
BalasHapusKreeen, kawan😉
BalasHapus